The Second

Are You Okay ?

Kematian

leave a comment »

Pernah nonton film buatan hollywood “Flatliners” ? Flatliners (sampai sekarang saya tidak tahu arti harfiah kata flatliners) sebuah film jadul yang –kalau tak salah- dibintangi Dustin Hoffman. Saya menontonnya sewaktu masih SMP, jadi sudah agak lupa juga. Namun, saya tak bisa lupa dengan esensi film ini yang –seperti biasa, nyeleneh seperti suramnya novel “Blind Owl” karya Sadeq Hidayat yang membuat mas ini penasaran.

Nah, film flatliners ini berisikan: “seperti apa sih kematian itu? Seperti apa rasanya?”


Konon, beberapa mahasiswa jenius di sebuah perguruan tinggi terkenal terinspirasi untuk membuat sebuah penelitian gila, yaitu meneliti kematian dengan merasakannya sendiri. Mereka ingin tahu apa yang dirasakan dan dialami oleh orang –orang yang sudah mati atau sedang diambang kematian. Karena penelitian ini akan sangat kontroversial dan ditentang banyak pihak, makanya mereka melakukannya secara illegal di lab kampus selepas tengah malam.

Lalu bagaimana caranya mereka merasakan kematian dan bisa hidup kembali untuk menceritakan pengalaman sensasional itu? Ada sebuah zat (saya lupa zat apa namanya) yang disuntikkan dengan dosis tertentu. Mereka melakukannya dengan gambling saja; jika berhasil maka mereka akan terkenal, kalau gagal berarti mati betulan.

Orang yang mencoba duluan (kalau tak salah) adalah Dustin Hoffman. Setelah disuntik, dia seperti koma, mati suri mungkin. Dalam kondisi antara hidup dan mati dia merasa melayang –layang mengarungi angkasa, melintasi awan –awan di atas pegunungan dan bukit yang indah. Lalu tiba –tiba dia berada di suatu tempat yang gelap dan banyak tangan yang menggapai –gapai. Itu terjadi dalam waktu sepersekian detik saja.

Nah, untuk menghidupkannya kembali, teman –temannya menyuntiknya dengan morfin dan memberikan shock therapy listrik pada jantungnya sampai puluhan ribu volt. Ketegangan berakhir saat Dustin Hoffman akhirnya membuka matanya.

Tapi ada satu cerita yang tidak dia ceritakan pada teman –temannya, yaitu kejadian –kejadian mengerikan yang menimpanya setelah uji coba itu. Sampai akhirnya mereka mecobanya satu persatu, dan berhasil dengan gemilang. Dalam alam kematian sesaat itu, masing –masing melihat masa lalu yang paling mengerikan, dan masa lalu itu menghantui mereka saat mereka kembali ke dunia nyata. Misalnya, ada yang merasa diikuti bayangan anak kecil di dalam kereta, padahal anak itu sudah meninggal dan tak sempat di tolong. Atau ada juga yang dihantui oleh seorang pembunuh.

Tampaknya, mereka mengalami kerusakan otak saat uji coba dan mengalami halusinasi menakutkan? Entah apalah. Akhirnya jadi film horror deh.

Ah, lupakan horornya. Yang ingin saya garisbawahi di sini pelajaran berharga tentang arogansi manusia yang merasa bisa memecahkan misteri kematian. Apa penelitian seperti itu bisa dilakukan? Apa dunia kematian bisa diungkap secara ilmiah? Sampai saat ini saya belum menemukannya. Kematian adalah hal yang akan selalu menjadi misteri. Tak ada yang bisa tahu kapan waktu matinya.

Seperti juga film Final Destination. Pesan moralnya: ‘tak ada yang bisa menghindari kematian’. Memang betul. Meskipun film itu jadi berlebihan karena ada manusia yang bisa menebak alur/ pola kematian hingga bisa mengetahui siapa yang akan mati ,seolah –olah bertarung dengan kematian itu sendiri. Dan cara mati yang terlalu sadis menurut saya.

Written by second

October 28, 2008 at 1:25 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply